Warga Jangli, Semarang, resah akibat fenomena tanah bergerak yang mengancam rumah mereka, warga meminta pemerintah segera melakukan relokasi.
Fenomena tanah bergerak kembali menimbulkan kekhawatiran di Kota Semarang, tepatnya di kawasan Jangli, Semarang Utara. Warga setempat melaporkan adanya pergerakan tanah yang semakin terasa, sehingga membuat beberapa rumah retak dan sebagian warga mulai ketakutan untuk tetap tinggal di lokasi.
Simak kabar terkini seputar Semarang yang sedang viral, hanya di Info Kejadian Semarang.
Kronologi Tanah Gerak di Jangli
Warga Jangli pertama kali merasakan tanah bergerak sejak awal Januari 2026. Awalnya pergerakan ini hanya berupa retakan kecil di beberapa rumah, namun dalam beberapa minggu terakhir, retakan semakin melebar dan tanah terlihat menurun di beberapa titik.
Menurut warga, fenomena ini semakin parah saat hujan lebat mengguyur kawasan tersebut. Salah satu warga bernama Ibu Sari mengatakan, rumahnya mengalami retakan dinding dan lantai yang mulai miring, sehingga anggota keluarga merasa khawatir untuk beraktivitas di dalam rumah.
Selain itu, beberapa warga melaporkan adanya bunyi gemuruh dari tanah yang bergerak, menambah kepanikan. Mereka berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk memetakan daerah rawan dan menentukan langkah mitigasi bencana yang tepat.
Dampak Terhadap Warga
Dampak tanah gerak ini sangat dirasakan oleh warga, terutama mereka yang rumahnya berada di titik paling rawan. Beberapa rumah sudah mengalami kerusakan struktural, membuat keluarga terpaksa tidur di luar rumah.
Selain fisik rumah, kondisi ini juga memengaruhi kesehatan mental warga. Kekhawatiran dan rasa takut akan kemungkinan longsor membuat beberapa warga mengalami stres dan gangguan tidur. Anak-anak juga menjadi gelisah karena melihat retakan dan pergeseran rumah secara terus-menerus.
Warga yang terdampak meminta pemerintah memprioritaskan relokasi ke lokasi yang aman. Mereka khawatir jika hujan deras kembali turun, tanah bergerak bisa mengakibatkan bencana tanah longsor yang lebih parah.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jateng Hari Ini: Semarang-Tegal Hujan Lebat
Analisis Penyebab Tanah Gerak
Ahli geologi dari Universitas Diponegoro, Dr. Rahman Santoso, menjelaskan bahwa tanah gerak di Jangli terjadi karena kombinasi beberapa faktor. Pertama, struktur tanah yang labil di kawasan pesisir Semarang Utara membuatnya mudah bergeser ketika terkena air hujan.
Kedua, aktivitas manusia, termasuk pembangunan yang tidak terkontrol dan saluran air yang buruk, turut mempercepat pergerakan tanah. Menurut Dr. Rahman, jika drainase tidak diperbaiki, fenomena tanah gerak bisa meningkat.
Ketiga, curah hujan tinggi yang terjadi beberapa minggu terakhir memperparah pergeseran tanah. Ia menekankan bahwa langkah mitigasi harus mencakup pemetaan titik rawan, perbaikan drainase, dan relokasi warga di zona bahaya tinggi.
Respons Pemerintah Dan Rencana Mitigasi
Pemerintah Kota Semarang melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) telah melakukan pemetaan daerah rawan dan memantau kondisi tanah secara berkala. Kepala BPBD, Hadi Wijaya, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyiapkan skema relokasi sementara bagi warga yang paling terdampak.
Selain itu, BPBD bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk memperkuat fondasi tanah dan membuat saluran drainase baru. Pihak berwenang menekankan bahwa langkah-langkah ini bersifat sementara hingga relokasi permanen dapat dilaksanakan.
Warga menyambut baik langkah awal ini, namun mereka tetap menekankan pentingnya aksi cepat dan transparan, agar ancaman tanah gerak tidak menjadi bencana yang lebih besar di masa mendatang.
Harapan Dan Kesadaran Masyarakat
Fenomena tanah gerak di Jangli menjadi pengingat bahwa keselamatan warga harus diutamakan dalam pembangunan perkotaan. Warga berharap pemerintah tidak hanya menanggapi secara reaktif, tetapi juga melakukan edukasi bencana dan pengawasan berkelanjutan di daerah rawan.
Masyarakat juga diajak untuk ikut memantau lingkungan sekitar, melaporkan retakan atau pergeseran tanah sedini mungkin, dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tanah longsor. Dengan kesadaran bersama, risiko bencana dapat ditekan seminimal mungkin.
Langkah kolaboratif antara warga dan pemerintah diharapkan bisa menjadi model penanganan bencana tanah gerak yang efektif, tidak hanya di Jangli tetapi juga di daerah lain yang memiliki potensi serupa di Semarang dan sekitarnya.
Simak berita update lainnya tentang Semarang dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Semarang.
Sumber Gambar:
- Gambar pertama dari detikcom
- Gambar kedua dari detikcom