Pergerakan tanah di Jangli, Semarang, semakin parah, merusak rumah warga, memaksa mereka mendirikan posko darurat untuk keselamatan.
Pergerakan tanah di Kampung Sekip, Sapta Marga 3, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Semarang, semakin mengkhawatirkan. Kerusakan parah menimpa rumah warga dan infrastruktur jalan, memaksa masyarakat mendirikan posko darurat sebagai langkah antisipasi. Situasi ini membutuhkan perhatian serius pihak berwenang demi keselamatan warga.
Simak beragam informasi menarik dan berkenaan berikut ini untuk memperluas wawasan Anda hanya di Info Kejadian Semarang.
Eskalasi Kerusakan Akibat Pergerakan Tanah
Pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Sekip, Jangli, Semarang, menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat keparahan. Jika sebelumnya tercatat 10 rumah terdampak, kini jumlah tersebut telah melonjak menjadi 15 rumah yang mengalami retakan, kemiringan, bahkan terancam roboh. Peningkatan ini terjadi hanya dalam kurun waktu lima hari sejak pemantauan terakhir.
Pantauan pada Selasa (10/2/2026) mengungkapkan bahwa retakan tanah semakin melebar dan memanjang, mengindikasikan aktivitas geologis yang terus berlanjut. Bagian jalan utama yang sebelumnya hanya retak kini ambles hingga sekitar 30 sentimeter, menciptakan kondisi jalan yang ekstrem dan berbahaya bagi pengguna.
Kondisi jalan kampung yang dulunya landai kini berubah drastis menjadi bergelombang, patah, dan menurun tidak beraturan. Penampakan jalan tersebut menyerupai “rintangan trek balap motor trail,” mencerminkan kerusakan parah yang membuat akses warga semakin sulit dan tidak aman.
Dampak Langsung Pada Warga Dan Infrastruktur
Pergerakan tanah telah menyebabkan kerusakan serius pada properti warga. Salah satu contoh paling mencolok adalah rumah milik Sri Darningsih, yang kini semakin miring dengan retakan yang melebar tanpa pola jelas. Kerusakan ini memaksa Sri untuk mengevakuasi diri ke Mranggen, Kabupaten Demak, dan meninggalkan rumahnya yang sudah tidak layak huni.
Ketua RT setempat, Sukaryono, mengungkapkan bahwa radius pergerakan tanah terus meluas, yang menyebabkan penambahan lima rumah terdampak. Menurutnya, retakan memanjang dan melingkar dengan panjang sekitar 70 meter, menunjukkan skala bencana yang terus berkembang dan mengancam lebih banyak bangunan.
Selain rumah warga, infrastruktur jalan juga mengalami kerusakan parah. Jalan utama yang sebelumnya masih bisa dilalui secara hati-hati kini hampir tidak bisa dilewati. Kerusakan ini mengganggu mobilitas warga dan menghambat aksesibilitas di seluruh kampung, memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Imlek & Ramadhan 2026 di Semarang, Momentum Untuk Tingkatkan Toleransi
Respons Warga, Pendirian Posko Darurat
Menyikapi kondisi yang semakin memburuk, warga Kampung Sekip bersama perangkat setempat telah mengambil inisiatif untuk membangun posko evakuasi darurat. Posko ini didirikan sebagai langkah antisipasi untuk melindungi warga dari potensi bahaya yang lebih besar, terutama saat hujan lebat.
Tenda dari rangka tratak beratapkan terpal telah didirikan di depan musala, sekitar 10 meter dari permukiman, di area yang dianggap relatif aman dari pergerakan tanah. Lokasi strategis ini dipilih untuk memastikan keamanan dan kemudahan akses bagi warga yang membutuhkan evakuasi cepat.
Sukaryono menjelaskan tujuan utama dari posko darurat ini. “Ini posko evakuasi. Rencana kami, kalau hujan lebat, warga terdampak bisa segera dievakuasi ke sini,” katanya. Inisiatif ini menunjukkan kesiapsiagaan dan semangat gotong royong warga dalam menghadapi bencana alam.
Urgensi Penanganan Dan Harapan Warga
Eskalasi kerusakan dan ancaman yang ditimbulkan oleh pergerakan tanah di Jangli memerlukan penanganan yang cepat dan komprehensif dari pihak berwenang. Evaluasi geologis mendalam serta solusi jangka panjang sangat dibutuhkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan menjamin keselamatan warga.
Warga berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan, baik dalam bentuk penanganan infrastruktur maupun dukungan bagi para korban yang rumahnya rusak. Penanganan permanen terhadap pergerakan tanah harus menjadi prioritas untuk mengakhiri penderitaan masyarakat Jangli.
Kondisi ini juga menyoroti pentingnya edukasi dan mitigasi bencana di wilayah-wilayah rawan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang risiko dan langkah-langkah pencegahan, dampak dari bencana alam serupa dapat diminimalisir di masa mendatang.
Simak berita update lainnya tentang Semarang dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Semarang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari jateng.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari metrotvnews.com