Agustina mendorong Pasar Dugderan Semarang diakui sebagai Warisan Budaya Indonesia, menghidupkan kembali tradisi lawas kota.
Semarang Festival Dugderan, perayaan budaya khas Semarang, kini diperjuangkan agar diakui sebagai Warisan Budaya Indonesia. Upaya ini dipimpin Pemerintah Kota Semarang untuk melestarikan nilai sejarah dan identitas kota bagi generasi mendatang, mencerminkan komitmen Pemkot menjaga warisan leluhur.
Simak beragam informasi menarik dan berkenaan berikut ini untuk memperluas wawasan Anda hanya di Info Kejadian Semarang.
Upaya Pelestarian Warisan Budaya
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan pentingnya pengakuan Pasar Dugderan sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. Menurutnya, status ini akan memastikan bahwa penyelenggaraan Pasar Dugderan akan terus berlanjut, terlepas dari siapa pun yang menjabat sebagai Wali Kota. Ini adalah upaya jangka panjang untuk mengamankan tradisi ini.
Agustina menjelaskan bahwa perjuangan ini didasari oleh kesadaran akan kekayaan sejarah dan budaya yang terkandung dalam Festival Dugderan. Pengakuan ini tidak hanya akan melestarikan acara tersebut, tetapi juga mengangkat derajatnya di kancah nasional. Harapannya, generasi muda akan semakin mengenal dan mencintai tradisi ini.
“Kami sedang berjuang agar Pasar Dugderan menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. Kalau ini menjadi warisan budaya, siapapun Wali Kotanya wajib mengadakan Pasar Dugderan,” tegas Agustina pada Minggu, 8 Februari 2026. Pernyataan ini menunjukkan tekad kuat Pemkot Semarang dalam melestarikan warisan berharga ini.
Kemeriahan Festival Dugderan 2026
Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 kembali digelar di Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman) mulai Sabtu, 7 Februari. Acara berlangsung sepuluh hari hingga 16 Februari, menawarkan berbagai hiburan dan aktivitas menarik bagi pengunjung. Pembukaan meriah menjadi pertanda baik bagi kelanjutan festival.
Mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi,” festival ini menghadirkan panggung hiburan yang menampilkan kesenian lokal dan musik “Dangdut Jadoel” dari Orkes Melayu (OM) Lorenza. Perpaduan hiburan modern dan nuansa nostalgia menjadi daya tarik utama festival ini, mengundang masyarakat dari berbagai kalangan untuk turut serta.
Nuansa nostalgia juga sangat terasa dengan penggunaan busana tempo dulu oleh jajaran pejabat Pemkot Semarang. Selain itu, kehadiran mainan ikonik seperti kapal otok-otok, celengan gerabah, hingga kerajinan gerabah membangkitkan memori kolektif warga lintas generasi. Festival ini berhasil menyatukan masa lalu dan masa kini dalam satu perayaan.
Baca Juga: Minimarket Ludes Terbakar di Semarang, Dugaan Ledakan Masih Diselidiki
Pasar Rakyat Dan Ekonomi Lokal
Agustina menyampaikan bahwa Festival Dugderan merupakan tradisi yang telah ada sejak zaman Belanda masih menjajah Indonesia. Tahun ini, penyelenggaraan festival dibuat lebih meriah dengan tema dan teknik yang unik, termasuk penggunaan baju-baju jadul. Ia berharap setiap tahunnya akan ada tema baru yang menarik untuk menjaga antusiasme masyarakat.
Kawasan sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo hingga Alun-alun barat telah disulap menjadi pusat ekonomi kerakyatan dengan zonasi yang tertata rapi. Ratusan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta Pedagang Kaki Lima (PKL) binaan turut berpartisipasi menjajakan produk lokal, kuliner, hingga mainan tradisional. Ini mendukung pergerakan ekonomi masyarakat.
“Biarlah alun-alun ini dipakai secara maksimal untuk ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat, semua orang yang ingin jualan biarkan saja jualan. Yang penting tertib dan pelaku usaha kecil yang menjadi paling utama prioritas,” lanjut Agustina. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Pemkot terhadap pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Koordinasi Dan Penutupan Festival
Agustina juga menegaskan bahwa koordinasi lintas sektor antara Disdag, Dishub, Satpol PP, hingga aparat keamanan telah disiapkan. Hal ini untuk memastikan rekayasa lalu lintas dan kebersihan kawasan tetap terjaga selama sepuluh hari ke depan, sehingga festival berjalan lancar dan nyaman bagi pengunjung. Aspek keamanan dan kenyamanan menjadi prioritas utama.
“Mudah-mudahan ini tetap ramai hingga 16 Februari. Kami akan akhiri dengan arak-arakan Dugderan dari Balaikota ke Masjid Kauman,” imbuhnya. Penutupan festival dengan arak-arakan diharapkan akan menjadi puncak kemeriahan dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga Semarang. Ini adalah bagian dari tradisi yang tak terpisahkan.
Pada Minggu, 8 Februari 2026, Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti secara langsung memantau persiapan dan pelaksanaan festival, menunjukkan dedikasinya terhadap kelancaran acara. Komitmen ini diharapkan dapat membawa Festival Dugderan semakin dikenal dan diakui sebagai warisan budaya bangsa.
Simak berita update lainnya tentang Semarang dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Semarang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari jateng.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari antaranews.com