Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi melanda perairan Kota Semarang, Jawa Tengah, membuat aktivitas nelayan tradisional terganggu.
Sekitar 973 nelayan terpaksa menunda melaut demi keselamatan dan mencari pekerjaan alternatif di darat, seperti pengemudi ojek online atau buruh proyek. Kondisi ini berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarga nelayan. Simak kabar terkini seputar Semarang yang sedang viral, hanya di Info Kejadian Semarang.
Cuaca Ekstrem di Semarang Ganggu Aktivitas Nelayan
Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi melanda perairan Kota Semarang, Jawa Tengah, selama dua pekan terakhir, menyebabkan aktivitas nelayan tradisional terganggu. Kondisi ini membuat sebagian besar nelayan kesulitan melaut secara rutin, sehingga berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Banyak nelayan yang biasanya mengandalkan hasil tangkapan laut untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini harus menunda melaut hingga kondisi laut lebih aman. Gelombang yang tinggi dan arus kuat membuat risiko kecelakaan meningkat, sehingga keselamatan menjadi prioritas utama.
Ketua DPW Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, Slamet Ari Nugroho, menyatakan bahwa cuaca ekstrem telah memengaruhi ratusan nelayan. Ia mencatat sekitar 973 nelayan di Semarang terdampak langsung oleh gelombang tinggi ini.
Nelayan Cari Pekerjaan Alternatif Akibat Gelombang Tinggi
Ketika tidak melaut, sebagian nelayan terpaksa mencari pekerjaan alternatif di darat untuk tetap mencukupi kebutuhan keluarga. Pilihan pekerjaan yang diambil biasanya yang bersifat sementara dan mudah diakses, seperti menjadi pengemudi ojek online atau buruh bangunan.
“Kalau tidak melaut ya tidak dapat hasil dan tidak bisa menghidupi keluarganya,” ungkap Ari. Hal ini menunjukkan betapa rentannya ekonomi nelayan tradisional terhadap kondisi cuaca ekstrem. Kehilangan pendapatan sehari saja bisa berdampak signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
Pekerjaan alternatif ini juga memberikan pengalaman baru bagi nelayan muda. Meski demikian, sebagian besar pekerjaan darat tidak sepenuhnya menutupi pendapatan mereka dari laut, sehingga tetap dibutuhkan strategi adaptasi untuk menghadapi gelombang tinggi.
Baca Juga: 123 Ton Bawang Bombai Tersandung Hukum, Penyelundupan Dari Malaysia
Perbedaan Strategi Nelayan Muda dan Tua
Menurut Ari, nelayan yang lebih muda cenderung memilih sementara beralih ke pekerjaan darat karena mereka memiliki fleksibilitas dan kemampuan fisik untuk menyesuaikan diri. Beberapa di antaranya menjadi pengemudi ojek online, buruh proyek, atau pekerja lepas lainnya.
“Yang muda-muda itu ada yang beralih kerja di darat, entah ngojek atau kerja bangunan. Karena melaut pun tidak akan dapat hasil, malah dapatnya sampah. BBM habis, ikan tidak ada,” jelas Ari. Hal ini menunjukkan strategi bertahan hidup yang berbeda antara generasi nelayan muda dan tua.
Sementara itu, nelayan berusia di atas 45 tahun cenderung tetap bertahan di laut karena keterbatasan kemampuan untuk beralih profesi. Kelompok ini mengandalkan pengalaman membaca kondisi laut dan memilih melaut hanya saat gelombang relatif aman, mengutamakan keselamatan tanpa mengorbankan sumber penghidupan utama mereka.
Perlunya Adaptasi dan Dukungan Untuk Nelayan
Fenomena gelombang tinggi menekankan pentingnya adaptasi nelayan terhadap kondisi alam yang tidak menentu. Perlu adanya strategi jangka pendek seperti mencari pekerjaan alternatif, sekaligus dukungan jangka panjang berupa pelatihan, bantuan alat keselamatan, dan informasi cuaca laut yang akurat.
Pemerintah daerah dan organisasi nelayan diharapkan dapat bekerja sama memberikan bantuan dan sosialisasi kepada nelayan, khususnya dalam menghadapi cuaca ekstrem. Bantuan bisa berupa subsidi BBM, pelatihan manajemen risiko, atau akses informasi dini terkait kondisi laut.
Dengan adaptasi yang tepat dan dukungan yang memadai, nelayan tradisional dapat tetap menjaga mata pencaharian dan keselamatan. Langkah ini penting untuk memastikan keberlanjutan sektor perikanan di Semarang, sekaligus melindungi kesejahteraan keluarga nelayan.
Simak berita update lainnya tentang Semarang dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Semarang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari regional.kompas.com
- Gambar Kedua dari regional.kompas.com