Kawasan food estate kembali disorot di Jawa Tengah, setelah KPA menekankan pentingnya memprioritaskan petani lokal dalam pengembangannya.

KPA Jateng mengingatkan pemerintah agar tidak terlalu fokus pada kepentingan investor yang bisa mengabaikan kesejahteraan petani, ketahanan pangan, dan keadilan sosial.
Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran Info Kejadian Semarang
Fokus Food Estate Harus Pada Petani Lokal
KPA Jateng menegaskan bahwa pengembangan food estate harus memastikan manfaat langsung bagi petani, bukan membuka peluang besar bagi investor besar. Mereka menyoroti praktik yang selama ini terjadi di beberapa daerah, di mana investor membawa modal besar namun petani lokal justru kehilangan lahan dan hak atas sumber produksi pangan. KPA berharap food estate bisa menjadi solusi yang menguatkan posisi petani dalam rantai produksi pangan.
Selain itu, KPA juga menekankan perlunya keterlibatan aktif petani dalam pengambilan keputusan terkait food estate. Program ini harus dirancang sesuai kebutuhan dan potensi petani di daerah, bukan didikte oleh kepentingan bisnis semata. Dengan demikian, food estate bisa benar-benar menjawab persoalan produktivitas sekaligus menjaga keberlangsungan sosial ekonomi petani di Jawa Tengah.
KPA Jateng juga meminta pemerintah untuk transparan dalam pengelolaan lahan food estate dan menjamin hak-hak petani untuk memperoleh akses lahan yang memadai serta fasilitas produksi yang layak. Hal ini agar food estate tidak menjadi ajang eksploitasi lahan oleh pihak-pihak yang tidak memihak kesejahteraan petani.
Investor dan Kesejahteraan Petani
Isu keterlibatan investor dalam food estate menjadi perhatian utama KPA Jateng. Mereka mengkritik jika keberadaan investor justru membawa konsekuensi negatif seperti pembagian keuntungan yang timpang dan marginalisasi petani. Dalam beberapa kasus, petani lokal malah tersisih atau terpinggirkan karena model bisnis yang berorientasi pada profit besar bagi investor.
KPA mengingatkan pemerintah agar tidak sampai menjadikan food estate semata-mata sebagai lahan investasi besar yang mengorbankan petani. Mereka menilai bahwa food estate harus tetap memiliki tujuan sosial utama yaitu meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional. Jangan sampai food estate hanya menjadi proyek bisnis yang menguntungkan investor asing atau konglomerat besar.
Penting juga bagi pemerintah untuk mengkaji ulang model kemitraan dengan investor agar jangan sampai menghilangkan kontrol petani atas proses produksi dan distribusi hasil pangan. KPA merekomendasikan agar mekanisme kemitraan yang lebih adil dan transparan diterapkan, sehingga petani mendapat manfaat langsung tanpa harus kehilangan kedaulatan atas lahan.
Baca Juga: Heboh! Mayat Pria Ditemukan di Selokan Jl Siranda Semarang
Perlunya Kebijakan Produksi Petani

KPA Jateng menyerukan agar pemerintah provinsi dan pusat mengeluarkan kebijakan yang jelas dan tegas mendukung petani dalam pengembangan food estate. Kebijakan tersebut harus melindungi hak lahan, menjamin akses input produksi seperti bibit dan pupuk, serta memberikan pelatihan teknis agar petani semakin mandiri dan produktif.
Selain itu, KPA menuntut agar program food estate tidak hanya menjadi proyek pemerintah tetapi melibatkan pengawasan langsung dari petani dan elemen masyarakat sipil. Dengan partisipasi yang lebih besar, food estate bisa berjalan sesuai prinsip keadilan agraria sekaligus kebijakan pembangunan yang inklusif.
KPA juga mengkritisi kebijakan yang lebih condong mendukung investasi modal besar tanpa memperhatikan keseimbangan sosial di lapangan. Mereka mengingatkan agar food estate dirancang sebagai wadah pengembangan pertanian rakyat dan bukan semata-mata sebagai proyek korporasi.
Dampak Positif Food Estate Bila Pro-Petani
Jika food estate benar-benar mengutamakan petani dalam setiap kebijakan dan pelaksanaannya, dampak positif yang muncul bisa sangat besar. Peningkatan hasil produksi pangan akan membantu menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan penghasilan petani. Petani juga bisa lebih sejahtera sehingga mampu berkontribusi pada pembangunan daerah.
Selain itu, food estate yang berbasis petani lokal akan meminimalkan konflik agraria karena pengelolaan lahan bersifat partisipatif dan transparan. Hal ini memperkuat stabilitas sosial dan ekonomi di wilayah yang selama ini rentan terhadap sengketa lahan. Petani mendapatkan perlindungan dan pengakuan atas hak-haknya.
Food estate yang pro-petani juga mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna dan inovasi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan petani. Dengan begitu, produktivitas tidak hanya meningkat tapi juga berkelanjutan, mendukung pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan di Jawa Tengah.
Simak dan ikut terus informasi menarik lainnya tentang dimana berita-berita terupdate dan terpecaya hanya di Info Kejadian Semarang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari detik.com