Menjelang Idul Adha, penjualan sapi kurban di Semarang justru mengalami penurunan drastis akibat sepinya minat pembeli di pasaran.
Menjelang Idul Adha 2026, penjualan hewan kurban di Semarang kurang menggembirakan. Pedagang sapi mengaku omzet menurun dibanding tahun sebelumnya, meski jual beli masih berjalan. Hingga akhir Mei 2026, beberapa pedagang baru menjual sekitar 50 ekor sapi dari stok yang disiapkan.
Simak beragam informasi menarik dan berkenaan berikut ini untuk memperluas wawasan Anda hanya di Info Kejadian Semarang.
Penjualan Mulai Berjalan, Tapi Tidak Seramai Tahun Lalu
Pada Kamis, 21 Mei 2026, sejumlah pedagang hewan kurban di kawasan sekitar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) mulai melaporkan adanya aktivitas pembelian dari masyarakat. Namun, angka penjualan masih jauh dari harapan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu pedagang menyebut bahwa meskipun pembeli mulai datang sekitar sebulan terakhir, laju transaksi tidak terlalu cepat. Kondisi ini membuat banyak pedagang harus menunggu lebih lama untuk bisa menghabiskan stok sapi yang mereka pelihara sejak jauh hari.
Biasanya pada periode menjelang Idul Adha, penjualan sudah bisa mencapai angka jauh lebih tinggi. Namun tahun ini, banyak pedagang mengeluhkan kondisi pasar yang terasa lebih lesu dan tidak seaktif tahun-tahun sebelumnya.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Baru Terjual Sekitar 50 Ekor Sapi
Pedagang sapi di Semarang, Maskan (70), mengungkapkan bahwa hingga pertengahan musim kurban, ia baru berhasil menjual sekitar 50 ekor sapi. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama.
Menurut Maskan, pada kondisi normal ia sudah bisa menjual sekitar 70 ekor sapi menjelang puncak Idul Adha. Namun tahun ini, permintaan dari pembeli dinilai lebih lambat dan tidak stabil.
Ia juga menyebut bahwa penjualan harian sangat fluktuatif, bahkan ada hari ketika tidak ada transaksi sama sekali. Hal ini membuat para pedagang harus lebih sabar dalam menghadapi kondisi pasar yang sedang melemah.
Baca Juga: Heboh! Pemotor Masuk Tol Batang–Semarang, Ini Penjelasan Jasamarga
Harga Sapi dan Faktor Yang Mempengaruhi
Dari sisi harga, sapi kurban di Semarang dijual dengan kisaran Rp 18 juta hingga Rp 45 juta per ekor. Bobot sapi yang ditawarkan berkisar antara 250 hingga 750 kilogram, tergantung jenis dan kualitasnya.
Pedagang juga menyebut bahwa sapi dengan harga sekitar Rp 22–24 juta menjadi yang paling banyak diminati pembeli. Segmen harga ini dianggap paling sesuai untuk kelompok kurban atau pembelian kolektif masyarakat.
Namun, meski harga relatif bervariasi, minat pembeli tetap tidak setinggi tahun sebelumnya. Faktor ekonomi dan daya beli masyarakat diduga menjadi salah satu penyebab utama lesunya penjualan hewan kurban tahun ini.
PMK dan Kondisi Pasar Jadi Tantangan
Selain faktor ekonomi, penyakit mulut dan kuku (PMK) juga masih menjadi kekhawatiran pedagang sapi di Semarang. Penyakit ini disebut dapat menyebar cepat dan berdampak pada kesehatan hewan ternak.
Pedagang mengaku harus lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan sapi, termasuk dengan rutin memanggil dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan. Hal ini dilakukan agar sapi yang dijual tetap dalam kondisi sehat dan layak kurban.
Di sisi lain, persaingan antarpenjual juga semakin ketat karena jumlah pedagang kambing dan sapi di kawasan tersebut semakin bertambah. Kondisi ini membuat pasar menjadi lebih kompetitif, sementara jumlah pembeli tidak mengalami peningkatan signifikan.
Simak berita update lainnya tentang Semarang dan sekitarnya secara lengkap tentunya terpercaya hanya di Info Kejadian Semarang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari rri.co.id